BATAM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kampus Batam secara resmi meluncurkan inisiatif strategis bernama “Mahasiswa Bergerak” pada hari Sabtu, 19 April 2026, di Aula Utama Gedung Rektorat. Program ambisius ini dirancang untuk memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batam melalui pendampingan, pelatihan, dan akses pasar digital yang komprehensif.
Peluncuran program yang melibatkan lebih dari 800 mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan ini menandai komitmen kuat organisasi mahasiswa Kampus Batam untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan ekonomi kerakyatan. Dengan menargetkan pemberdayaan 500 UMKM dalam enam bulan pertama, BEM yakin dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif di Batam, kota dengan populasi 1,5 juta jiwa yang memiliki potensi ekonomi maritim dan industri yang sangat besar.
“Program Mahasiswa Bergerak adalah wujud nyata dari komitmen kami untuk tidak hanya belajar di dalam kampus, tetapi juga berkontribusi pada masyarakat Batam. Kami percaya bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Dino Pratama, Ketua Umum BEM Kampus Batam periode 2025-2026, dalam sambutan pembukaan acara yang dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, perwakilan DPRD Kota Batam, serta ketua-ketua organisasi mahasiswa lainnya.
Latar Belakang dan Visi Program
Kampus Batam, sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Kepulauan Riau, telah lama memiliki visi untuk menjadi motor penggerak pembangunan berbasis pengetahuan dan inovasi. Namun, menurut studi yang dilakukan oleh Tim Riset Kebijakan Publik Kampus Batam tahun 2025, masih terdapat kesenjangan signifikan antara kemampuan akademik mahasiswa dengan aplikasi praktisnya di lapangan.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen UMKM di Batam belum memanfaatkan teknologi digital dalam operasional bisnisnya. Selain itu, akses terhadap pelatihan manajemen modern dan pendampingan bisnis masih sangat terbatas, terutama bagi UMKM skala mikro yang tersebar di berbagai kelurahan dan distrik.
Melihat peluang ini, BEM Kampus Batam bersama dengan Kementerian Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Koperasi Kota Batam memulai perencanaan program Mahasiswa Bergerak sejak Agustus 2025. Program ini dirancang dengan pendekatan tri-helix yang melibatkan akademisi (kampus), bisnis (UMKM), dan pemerintah.
“Kami memilih Kampus Batam sebagai mitra utama karena mahasiswa di sini memiliki semangat yang luar biasa untuk terlibat dalam pembangunan komunitas. Sinergi antara akademik dan industri lokal adalah kunci kesuksesan program ini,” ungkap Bambang Sutrisno, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Batam, dalam wawancara khusus pada acara peluncuran.
Mekanisme dan Target Program
Program Mahasiswa Bergerak dirancang dalam tiga pilar utama: pilar pendampingan bisnis, pilar digitalisasi UMKM, dan pilar pengembangan pasar. Masing-masing pilar melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan dan keahlian yang relevan.
Pilar pertama, pendampingan bisnis, melibatkan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, serta Fakultas Hukum. Mereka akan mendampingi UMKM dalam perencanaan bisnis, manajemen keuangan, perizinan, dan pengembangan strategi pemasaran. Setiap kelompok mahasiswa akan menangani 3-5 UMKM dengan intensitas pendampingan minimal dua kali setiap minggu.
Pilar kedua, digitalisasi UMKM, melibatkan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer dan Teknik Informatika. Mereka akan membantu UMKM dalam membuat website, mengoptimalkan presence di media sosial, serta memanfaatkan platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan Marketplace lokal. Pelatihan juga mencakup digital marketing, customer relationship management (CRM), dan analytics dasar.
Pilar ketiga, pengembangan pasar, merupakan hasil sinergi antara mahasiswa dengan pemerintah kota. Dalam pilar ini, Kampus Batam akan memfasilitasi UMKM untuk mengikuti pameran dagang, roadshow produk, dan akses ke jaringan distribusi yang lebih luas. Target ambisius program adalah membawa 100 produk UMKM Batam ke pasar nasional dan internasional.
“Kami juga menyediakan dana hibah kecil untuk UMKM yang lolos seleksi ketat. Tidak besar, sekitar 5-10 juta rupiah, tetapi cukup untuk modal awal digitalisasi atau pengadaan peralatan produksi yang sederhana,” jelas Dino Pratama, menambahkan bahwa dana ini bersumber dari APBM (Anggaran Pendapatan Belanja Mahasiswa) yang telah disetujui oleh Rektor dan Senat Kampus Batam.
Respons Pejabat Kampus dan Stakeholder
Rektor Kampus Batam, Prof. Dr. Ir. Hendra Wijaya, M.Sc., memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif BEM ini. Dalam keterangan resminya, Rektor menekankan bahwa program Mahasiswa Bergerak sejalan dengan visi Kampus Batam sebagai universitas yang beresonansi dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami bangga memiliki mahasiswa yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Program Mahasiswa Bergerak adalah bukti bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga wahana untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan masyarakat luas,” kata Prof. Hendra dalam sambutannya yang mendapat applause meriah dari peserta acara.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Siti Nurhaliza, S.E., M.M., juga memberikan apresiasi tinggi. “Dari perspektif kemahasiswaan, program ini sangat positif karena memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa. Mereka akan belajar tentang tanggung jawab sosial, kepemimpinan, dan bagaimana menerapkan ilmu yang telah diterima di kelas. Kami akan memberikan dukungan penuh dalam bentuk surat keterangan keterlibatan, recognition point dalam KRS, dan akses ke fasilitas kampus yang dibutuhkan,” paparnya.
Selain pejabat kampus, hadir pula Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad, yang mewakili Walikota Muhammad Rudi. Wakil Walikota Amsakar mengapresiasi inisiatif BEM dan berkomitmen untuk memberikan dukungan administratif dan regulasi yang mendukung program ini.
“Batam adalah kota yang dinamis dan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, seperti banyak kota lain di Indonesia, kami juga menghadapi tantangan dalam hal inklusi ekonomi dan pemberdayaan UMKM. Saya percaya bahwa kolaborasi antara kampus, mahasiswa, dan pemerintah seperti yang tercermin dalam program Mahasiswa Bergerak adalah model yang perlu ditiru dan dikembangkan lebih lanjut,” ujar Wakil Walikota Amsakar dengan nada penuh harapan.
Respons dari UMKM Lokal
Respons dari komunitas UMKM Batam terhadap program ini juga sangat antusias. Pada acara peluncuran, hadir pula perwakilan dari beberapa UMKM yang telah mendaftar sebagai early adopters program ini.
Siti Mariyah, pemilik usaha batik cap tradisional “Batik Nusantara Batam” yang telah beroperasi selama 15 tahun, mengungkapkan kegembiraan dan harapannya. “Saya sangat senang ada mahasiswa yang mau membantu bisnis saya. Selama ini, saya kesulitan untuk memasarkan produk di luar Batam karena tidak tahu caranya menggunakan internet dan media sosial. Sekarang dengan bantuan program ini, saya yakin bisnis saya bisa berkembang lebih besar lagi,” katanya sambil menunjukkan koleksi batik buatannya yang indah.
Arief Rahman, pemilik usaha perikanan “Ikan Segar Batam Jaya”, menambahkan perspektif dari sektor lain. “Industri perikanan adalah jantung ekonomi Batam, tetapi banyak nelayan dan pengusaha perikanan kecil yang belum siap dengan era digital. Program mahasiswa ini datang pada waktu yang tepat. Kami membutuhkan bantuan untuk memasarkan ikan kami dengan harga yang lebih adil, dan saya percaya mahasiswa Kampus Batam bisa membantu kami dalam hal itu,” ujar Arief dengan optimisme yang terpancar dari wajahnya.
Struktur Organisasi dan Tim Pelaksana
Untuk memastikan efektivitas program, BEM Kampus Batam telah membentuk tim khusus yang terdiri dari 50 orang mahasiswa berpengalaman yang bertindak sebagai koordinator, mentor, dan fasilitator. Tim ini dipilih melalui proses seleksi yang ketat yang melibatkan penilaian akademik, soft skills, dan komitmen sosial.
Struktur kepanitiaan program Mahasiswa Bergerak terdiri dari Ketua Program (Dino Pratama), Wakil Ketua Program (Astrid Kusuma dari Fakultas Ekonomi), dan tiga Koordinator Pilar. Koordinator Pilar Pendampingan Bisnis dijabat oleh Fajar Subiantoro (Fakultas Ekonomi), Koordinator Pilar Digitalisasi dijabat oleh Rina Wijaya (Fakultas Teknik Informatika), dan Koordinator Pilar Pengembangan Pasar dijabat oleh Muchlis Hadi (Fakultas Hukum).
“Kami memilih ketiga koordinator pilar berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan kemampuan mereka untuk bekerja dalam tim lintas disiplin ilmu. Ini adalah salah satu kekuatan program kami – diversity dalam pendekatan dan perspektif,” jelas Dino ketika ditanya tentang proses seleksi tim.
Target Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam dokumen proposal program yang dirilis pada acara peluncuran, BEM Kampus Batam menetapkan target yang terukur dan ambisius namun realistis.
Target jangka pendek (3 bulan pertama) adalah:
– Rekrutmen dan pelatihan 50 mahasiswa sebagai fasilitator
– Identifikasi dan registrasi 200 UMKM yang akan mengikuti program
– Pelatihan awal bagi UMKM tentang pentingnya digitalisasi dan inovasi bisnis
Target jangka menengah (3-6 bulan):
– Pendampingan intensif kepada 500 UMKM
– Digitalisasi 300 UMKM dengan pembuatan website dan optimalisasi media sosial
– Fasilitasi partisipasi 100 UMKM dalam pameran dagang lokal dan regional
Target jangka panjang (6-12 bulan):
– Peningkatan rata-rata omset UMKM pendamping minimal 30 persen
– Ekspor produk lokal Batam ke minimal 5 negara ASEAN
– Terbentuknya cluster UMKM digital yang sustainable dan terus berkembang
“Target kami ambisius, tapi kami yakin bisa mencapainya dengan kerja keras, dedikasi, dan dukungan dari semua stakeholder. Ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang transformasi nyata dalam kehidupan pelaku UMKM di Batam,” ujar Dino dengan penuh keyakinan.
Tantangan dan Strategi Mitigasi
Dalam presentasi detailnya, BEM juga tidak menutup-tutupi tantangan yang mungkin dihadapi. Koordinator Pilar Digitalisasi, Rina Wijaya, mengidentifikasi beberapa tantangan utama.
“Tantangan pertama adalah tingkat literasi digital yang masih rendah di kalangan pelaku UMKM. Banyak dari mereka yang berusia di atas 50 tahun dan tidak terbiasa dengan teknologi. Kedua, infrastruktur internet di beberapa area Batam masih kurang memadai. Ketiga, ada aspek budaya di mana beberapa UMKM masih percaya pada cara-cara tradisional dan enggan untuk berubah,” jelas Rina sambil menunjukkan slide yang berisi data dan analisis mendalam.
Namun, untuk setiap tantangan, BEM juga telah menyiapkan strategi mitigasi. “Untuk mengatasi literasi digital, kami akan memberikan pelatihan bertahap dan intensif, dimulai dari yang paling dasar. Untuk masalah infrastruktur internet, kami akan memanfaatkan hotspot gratis di kampus dan bekerja sama dengan pemerintah untuk perbaikan jaringan. Untuk masalah budaya, kami akan menggunakan pendekatan persuasif dengan melibatkan tokoh masyarakat dan yang sudah berhasil untuk menjadi role model,” papar Rina dengan detail yang menunjukkan perencanaan yang matang.
Dampak Diharapkan dan Kontribusi pada Ekonomi Lokal
Analisis dampak program yang disusun oleh Tim Riset Kampus Batam memperkirakan beberapa manfaat signifikan jika program ini berhasil dijalankan dengan baik.
Pertama, dari perspektif ekonomi makro Batam, program ini diproyeksikan akan menambah kontribusi UMKM terhadap PDRB Kota Batam sebesar minimal 2-3 persen dalam 12 bulan pertama, dengan asumsi rata-rata peningkatan omset 30 persen pada 500 UMKM yang didampingi.
Kedua, dari perspektif penciptaan lapangan kerja, dengan asumsi setiap UMKM menambah 2-3 tenaga kerja baru akibat ekspansi bisnis, program ini diproyeksikan akan menciptakan minimal 1.000-1